27 Desember 2012

Masih Adakah Guru ini

BELUM lagi hilang lelahku sehabis mengajar. Istri ku, Ratih, dengan wajah masam sambil berkacak pinggang langsung berujar.
            “Kalau honor Mas mengajar di sekolah hanya 350 ribu sebulan, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang, kita sudah punya anak, Mas,” ingatnya berapi-api.
            Hah..., sebenarnya aku sangat malas meladeni, bahkan bosan. Tiap kali aku menyerahkan honorku. Pasti dia ngomel tak karuan. Seharusnya dia ikut bersyukur. Bulan ini honorku dinaikkan pihak sekolah 50 ribu sebulan dari sebelumnya. Tapi, memang dasar tabiat istriku seperti itu. Bawaannya ngomel melulu. Salah ini diomelin. Salah itu juga diomelin. Nasib...! Nasib...!
            “Ya, mau gimana lagi, Bu. Pihak sekolah hanya mampu membayar Mas segitu.” ucapku dengan terpaksa.
            “Mas berhenti saja jadi guru,” sahut Ratih enteng. Masih dengan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga. Kalau harus memilih, mungkin aku lebih suka mendengarkan musik-musik cadas. Dari pada suara Ratih.
            “Maksud Ibu?”
            “Mas cari kerjaan lain saja. Percuma jadi guru honorer. Sudah lima tahun mengabdi, belum juga di angkat jadi PNS.”
            Ah, baru sadar aku. Ternyata sudah lima tahun aku menjadi guru honorer, di sebuah sekolah dasar di kampungku. Aku mengajar sejak semester akhir kuliah. Di tahun ke-empat, ku putuskan untuk menikahi Ratih. Sebab dia mau menerima aku apa adanya.
Tetapi, niat hatinya menerimaku dengan apa adanya hanya sampai di tahun pertama. Di tahun ke-dua, apalagi setelah mempunyai anak. Ratih mulai mempermasalahkan penghasilan kecilku sebagai guru honorer. Ia terus menggerutu dan mengomel karena terus kekurangan uang untuk membeli keperluan rumah tangga dan dapur.
Aku tak tahu ini salahku atau salah pemerintah. Kenapa sampai sekarang aku masih belum menjadi PNS? Padahal aku tak pernah ketinggalan mengisi formulir yang diberikan kepala sekolah, untuk mengisi data yang akan dimasukkan ke dalam data base.
Mungkin tak hanya diriku yang bernasib seperti ini. Ratusan, bahkan ribuan guru honorer di daerah lain. Nasibnya juga tak berbeda jauh dariku. Hanya mengharap “Belas Kasihan” Pemerintah agar segera di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti harapan.
“Mau kerja apa? Mas bisanya cuma mengajar,” elakku.
Mengajar adalah panggilan jiwa. Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku juga punya harapan untuk memajukan kampung halamanku ini. Dengan menciptakan generasi-generasi yang cerdas melalui ilmu yang ku transfer di bangku sekolah.
“Kerja apa, kek, yang penting penghasilannya lebih besar dari ini.” Ratih menghempaskan uang yang tadi ku berikan ke atas meja. Lalu masuk ke kamar, sebab terdengar suara tangisan anakku yang tadi sedang tidur. Mungkin terbangun karena mendengar suaranya ibunya yang nyaring.
Sebelum punya anak, Ratih bekerja di warung makan Haji Bardi, sebagai pelayan. Upahnya cukup lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Setelah punya anak, dia berhenti, karena harus merawat bayi kami. Kini hanya aku, satu-satunya menjadi tumpuan untuk menghidupi mereka.
Barulah aku tahu, alasan dia selalu marah-marah tak karuan. Ia ingin aku cari kerjaan lain rupanya. Ah, apakah aku terlalu bodoh selama ini? Sehingga tak mengerti keinginannya. Mungkin, ia ingin seperti tetangga yang lain. Yang segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan lebih. Mereka bisa beli ini dan itu. Sedangkan istriku?
Namun, aku masih bersyukur. Ratih kuat menyimpan rahasia. Ia tak pernah bercerita ke tetangga akan keadaan rumah tangga kami. Ia selalu dapat berpura-pura, bahwa keluarga kami tak pernah kekurangan. Bahkan, terlihat sangat harmonis. Sehingga banyak keluarga lain yang terlihat iri.
Itu ku ketahui ketika aku mau membeli pisang goreng di warung Acil Rahmah. Tetapi, harus menunggu karena pisang gorengnya belum matang. Seraya menunggu, aku pun di ajak mengobrol warga lain.
“Kamu ini beruntung, Man,” kata Bang Salim. “Sudah istri cantik, pengertian lagi,” lanjutnya tampak iri.
“Maksud, Abang?” tanyaku bingung. Lalu duduk di sampingnya, di kursi panjang di dekat meja.
“Masa kamu tak paham sih, Man,” Acil Rahmah yang sedang membolak-balik pisang goreng dalam wajan langsung menyahut. “Istri kamu, tuh, tak seperti istrinya si Salim ini, yang suka marah-marah minta dibelikan ini dan itu...”
Hup..! Apakah jawaban Acil Rahmah yang spontan ini tak ada maksud untuk menyindirku juga?.
“Aku tak pernah mendengar kalian bertengkar, saat lewat depan rumahmu,” kata Bang Salim lagi. “Padahal aku tahu, penghasilanmu sebagai guru honorer, tak lebih besar dariku yang hanya penarik becak.....”
Ah, malu juga rasanya. Jadi guru, tetapi, penghasilannya lebih kecil dari penarik becak.
“Dari itu aku berkesimpulan, bahwa istrimu itu orang yang pengertian.” Bang Salim meniupkan asap rokoknya dengan kasar ke udara. “Kalau aku, hampir tiap hari bertengkar. Hanya gara-gara masalah duit.”
Oh, leganya juga rasanya. Ternyata selama ini tak pernah ada yang tahu keadaan dalam rumah tangga kami yang sebenarnya. Aku memang sering mengalah, bila Ratih sudah mulai mengomel. Ku ambil pancing, pergi ke pematang sawah. Memancing ikan papayu, ataupun saluwang. Bila beruntung, aku bisa dapat 20 ekor lebih. Itu sudah cukup untuk meredam kemarahan Ratih.
Seandainya, sikapku seperti Bang Salim–yang selalu meladeni istrinya bila marah. Dapat di pastikan, di rumahku bakal terjadi “Perang dunia ke-3” bahkan, sampai dua kali dalam sehari.
Ah, bagaimana ini? Apakah memang aku harus berhenti mengajar? Demi memenuhi keinginan Ratih. Pusing.....!.
Suara tangis anakku tak terdengar lagi. Ia sudah tertidur kembali. Tapi....ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Kalau Ratih keluar kamar, pasti dia akan melanjutkan marahnya. Cepat ku ambil joran pancing di belakang rumah.
“Mas.....!” teriaknya.
Aku pura-pura tak mendengar. Terus ku kayuh langkah menuju pematang. Semoga saja aku dapat ikan banyak lagi kali ini.

 Sebelum berangkat ke sekolah, aku beranjak ke meja makan untuk sarapan. Saat ku buka tudung saji. Kosong. Tak ada masakkan apapun seperti biasanya. Ku lirik Ratih, dengan cueknya dia menyusui bayi kami.
            “Ibu tak masak?” ku hampiri Ratih. Tanpa senyum, ia langsung menyahut ketus.
            “Mau masak apa? Beras kita hanya tinggal setengah liter. Cukup untuk makan siang saja.”
            Aku tak lagi menyahut. Ku tinggalkan saja ia, lalu mengambil buku paket di atas meja. Kalau ku tanya lebih lanjut. Pasti jawabannya, mau beli beras pakai daun pisang. Dengan perut keroncongan, ku kayuh sepeda onthel-ku menuju sekolah.
            Pengeluaran semakin meningkat, seiring semakin besarnya anak kami. Dari mulai popok, susu, bubur, dan pakaian. Ternyata, honorku selama satu bulan, tak cukup lagi untuk membiayai keluargaku selama satu minggu.
***
            Di sekolah, aku mengajar dengan lemas. Perutku terasa sangat lapar. Melilit-lilit. Jam istirahat masih lama. Mau pergi ke kantor guru, untuk minum duluan, malu sama guru-guru yang lain. Dengan sangat terpaksa ku tahan rasa lapar ini.
            “Pak, soal nomor 1, saya tak mengerti,” kata salah seorang muridku yang duduk di bangku depan.
            Untuk saat ini, aku jauh lebih senang kalau tak ada satu murid pun yang bertanya, dengan begitu aku tak perlu membuang energiku yang hampir drop ini. Tapi, apa mau di kata, sebagai seorang guru aku harus dengan sabar menjelaskan pada murid-murid agar mereka mengerti.
            “Pak, kok, enggak di jawab, sih!” kata muridku lagi. Kelihatannya dia mau merajuk.
            “I-iya, Bapak akan jelaskan.”
            Dengan sisa tenaga yang masih ada, ku mencoba menjelaskan secara perlahan bagaimana cara menyelesaikan tugas latihan yang tadi ku berikan. Semakin lama menjelaskan, suaraku semakin lemah. Sehingga murid-muridku yang duduk paling belakang langsung protes.
            “Pak, nyaringin sedikit dong suaranya. Enggak kedengeran.....”
            Kembali ku coba mengangkat suaraku. Agar semuanya bisa mendengar. Kali ini lebih parah lagi. Pandanganku mulai menguning. Berkunang-kunang. Bahkan, huruf dan angka yang ku tulis di whiteboard terlihat buram.
            Krrrrruuuukk! Suara perutku.
            Seiring dengan tawa murid-muridku yang langsung membahana menghantam dinding-dinding  kelas. Aku ambruk ke lantai, dan semuanya gelap.
***
            Bau minyak angin menusuk rongga hidungku. Ku buka kelopak mataku pelan. Warna putih langit-langit ruangan langsung menyapa retinaku. Ku coba mengenali aku berada di mana. Apakah di rumah sakit? Atau di rumah?.
            “Alhamdulillah, Pak Herman sudah sadar, Bapak ada di ruang UKS.” suara Kepala Sekolah menjawab keingintahuanku.
            Walaupun masih terasa pusing, ku coba untuk bangun. Duduk di bibir ranjang. Bu Tini, langsung menyodorkan teh panas ke hadapanku.
            “Minum, lah, dulu, biar badanmu bertenaga kembali”
            Tanpa membantah, langsung ku tenggak separo gelas. Ah, sedikit tenang rasanya cacing-cacing dalam perutku.
            “Ini nasi bungkusnya, Pak” Pak Raji tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Menyerahkan sesuatu dalam kresek hitam kepada Kepala Sekolah.
            Kepala Sekolah tersenyum, kembali menghampiriku. “Kata murid-murid, Pak Herman pingsan mungkin gara-gara kelaparan. Jadi kami belikan nasi bungkus ini untuk Bapak.”
            Ragu-ragu ku sambut nasi bungkus itu. Ku tatap semua yang ada di ruangan. Semua tersenyum. Ah, jadi malu sendiri. Ketahuan pingsan gara-gara kelaparan.
            Bel jam pelajaran baru kembali berbunyi. Semua guru dan Kepala Sekolah kembali untuk mengajar. Tinggalah aku sendiri di ruang UKS sambil menghabiskan nasi bungkus ini.
            Tiba-tiba aku aku tertegun, teringat wajah Ratih dan anakku. Sanggupkah mereka menahan lapar? Sedangkan aku saja pingsan. Ini baru sehari, bagaimana dengan hari-hari -->?. Pasti akan lebih sering kejadian seperti ini terulang padaku.
            Mungkin, aku harus mengingkari panggilan jiwa. Aku tak boleh egois. Ratih dan anakku merupakan amanah. Tak tega, membiarkan mereka harus mendera lapar karena tak dapat membeli beras dan susu. Sebagai seorang suami tentu tak menginginkan itu terjadi.
            Ratih benar, lebih baik aku berhenti mengajar dan mencari kerjaan lain. Tak ada yang bisa di harapkan dari gaji seorang guru honorer untuk bisa menghidupi keluarga.
Di otakku kini sudah bertebaran kata-kata yang akan ku susun dalam surat pengunduran diri.
 sumber : milis dikmenjur

0 Komentar:

Posting Komentar

Your Comment

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda